Ir. Didimus Tebai: 30 Tahun Menjadi Insinyur Bodoh di Lingkaran Setan

Minggu , 22 Maret 2015 19:39 | Testimony | Dibaca 947 kali

Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH -- Ketua P5 Kopi Arabika Moanemani, Ir. Didimus Tebai, mengatakan, pemerintah Kabupaten Dogiyai, lebih sayang proses kemiskinan dari pada orang miskin.

Hal itu dikatakannya di tempat produksi Kopi Arabica Moanemani, Kampung Kimupugi, Dogiyai, Jumat (13/03/215) di hadapan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, dua Anggota DPR RI, Bupati Dogiyai serta para pejabat SKPD Dogiyai.

Di Dogiyai, kata Didimus, harusnya setiap masyarakat menanam paling sedikit 800 pohon kopi untuk terus pertahankan pengembangan kopi yang ada karena penanam pohon kopi sangat menjanjikan untuk ke depan.

"Saya sudah 30 tahun sejak 1981-2015 menjadi Insinyur bodoh di lingkaran setan," kata Tebai.

Tebai mengungkapkan, selama ini terkesan, ada bantuan dari Pemerintah daerah kepada pihaknya, namun semua bantuan yang diberikan kepada dirinya sama sekali tidak pernah dapat dan dirinya sama sekali tidak tahu tentang semua yang dibantu kepadanya.

"Untuk usaha kopi ini, namanya sudah terdengar sampai di luar negeri, namun di sini sudah ada pemerintah, nama Kopi Arabika Moanemani sudah hilang dalam nama Dogiyai," kata tamatan dari Belanda ini.

Pada kesempatan itu, ia menyerahkan sebuah proposal bantuan kepada pihaknya setelah diminta dari wakil ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

"Jika memang dari DPR RI mau bantu kepada kami di sini, langsung kirim ke rekening kami. Kami tidak mau melalui pemerintah karena pasti sebagian akan hilang di tengah jalan," ujarnya lagi.

Sementara itu, wakil ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengaku mengagumi dengan sosok Ir. Didimus Tebai yang sudah sejak puluhan tahun bertahan mengembangkan usaha kopi walaupun ada banyak tantangan.

"Ini sangat sungguh luar biasa dan hal yang patut dijempol," kata Fahri bangga.

Wakil Ketua DPR RI berharap, pemerintah daerah Dogiyai harus pikirkan untuk harus ada pemasaran yang bagus dari usaha kopi Arabica Moanemani.

"Setiap tamu yang datang ke Dogiyai harus dibawa pulang masing-masing karena ini barang yang paling khas dari daerah ini," katanya.

Mengingat penting dan hal yang menjanjikan, sehingga ia berpesan kepada semua masyarakat Dogiyai untuk menanam lebih banyak lagi pohon kopi.

Sebelum pulang ke Jakarta melalui jalan darat dari Dogiyai ke Nabire, Fahri Hamzah, bersama rombongannya sempatkan waktu untuk melihat langsung dari tempat proses pembuatan kopi Arabica Moanemani yang dijalankan oleh Ir. Didimus Tebai, sejak tahun 1981. (Pilemon Keiya/MS)
 
Penulis : Pilemon Keiya | Jum'at, 13 Maret 2015 14:57