Teh dan Kopi Indonesia Kuasai Pasar Malaysia

Senin , 21 April 2014 02:17 | Ekonomi & Bisnis | Dibaca 936 kali

14 April 2014 02:16:47, http://www.deiyaikab.go.id/kegiatan/156/teh-dan-kopi-indonesia-kuasai-pasar-malaysia.htm

DEIYAI - Indonesia tercatat sebagai pemasok utama produk teh dan kopi di Malaysia dengan pangsa pasar yang terus meningkat, di mana nilainya kini mencapai hingga ratusan juta ringgit dalam setahun.

Dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa tren ekspor teh dan kopi asal Indonesia ke negara ini terus meningkat dengan nilai yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data ekspor teh Indonesia ke Malaysia, pada 2013 mencapai 57,96 juta ringgit (Rp200 miliar) dan ekspor kopi senilai 281,22 juta ringgit (Rp973 miliar).

Pangsa pasar teh Indonesia di Malaysia pada 2013 mencapai 36 persen, diikuti Tiongkok 18,5 persen, India (7,2 persen), Vietnam (7 persen) dan Sri Lanka (5,5 persen). Sedangkan pangsa pasar kopi Indonesia di negara ini sebesar 43,2 persen diikuti Vietnam (32,7 persen), dan Brasil (10 persen).

Besarnya permintaan akan hasil komoditas perkebunan dari sejumlah daerah di Tanah Air ini sejalan dengan terus menjamurnya tempat minum teh ataupun kedai kopi di negara jiran itu.

Teh hitam jenis dust dari Indonesia merupakan produk yang paling dicari karena menjadi bahan pencampur utama bagi produk teh Malaysia.
Sebelumnya, dalam pameran Malaysia International Tea & Coffee Expo (MITCE) yang berlangsung 27-31 Maret di Kuala Lumpur, aneka produk teh dan kopi asal Indonesia juga mendapatkan peminat yang besar.

Contohnya, perusahaan perkebunan milik negara, dalam hal ini PTPN VIII yang ikut serta dalam pameran tersebut berhasil mendapatkan pembelian teh dalam jumlah besar mencapai 290 ton dengan nilai mendekati 600 ribu dolar AS. Marketing Manager PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), Ahmad Kertabumi, mengungkapkan bahwa Malaysia merupakan pasar utama dengan menyerap 23 persen dari total ekspor teh dari perkebunan milik negara ini.

Sementara itu, sebelumnya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Pagaralam sebagai produsen teh telah membangun unit pengolahan teh dengan metode CTC (crushing tearing curling). Tujuan pembangunan unit pengolahan teh CTC itu adalah untuk melakukan diferensiasi produk teh agar dapat memenuhi selera konsumen, termasuk mengincar pasar teh global yang mampu menciptakan produk brand new and different from the others.

Keistimewaan serta keunggulan teh produk PTPN VII Unit Usaha Pagaralam di Sumatera Selatan itu adalah pada rasa dan aroma teh yang unik dan khas. Kekhasan itu diperoleh tidak lain karena letak geografis kebun teh yang berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan dataran tertinggi di Sumsel.

Dalam upaya menciptakan produk yang memenuhi kriteria food grade tersebut, PTPN VII menerapkan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip higienis, dan juga didukung oleh peralatan full automatic processing serta konsultan produk berpengalaman dari India, sehingga menjamin mutu produk terjaga dan bisa memenuhi selera serta memberikan kepuasan konsumen. Beberapa produk CTC yang ada, antara lain mutu I, yakni BP, PF, Dust I, dan untuk mutu II yakni Dust II.

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dan umum dikonsumsi di dunia. Teh berasal dari China, di mana sekitar abad ke-16 ketika Portugis ke daerah tropis, kolonialnya, maka minuman teh diperkenalkan dan diimpor ke Eropa dan dengan cepat meraih popularitas. Popularitas ini membuat Portugis dan Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan teh skala besar di daerah tropis koloni mereka.

Saat ini, perkebunan teh di Indonesia kondisinya terus menurun diakibatkan karena luas lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang, saat ini 120.000 hektar di mana sebelumnya adalah  150.000 hektar.

Sampai saat ini Indonesia masih berada di peringkat ketiga untuk penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Hasil produksi kopi pada tahun 2012 sebesar 748 ribu ton atau 6,6% dari produksi kopi dunia.

Dalam kurun waktu dari Januari-November 2013 tercatat 32 juta dolar AS dari total 47 juta dolar impor kopi mesir, yakni menguasai 71 persen pangsa pasar dinegeri itu. Namun impor kopi Mesir dari Indonesia pada Januari-November 2013 menurun 9,43 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat 35,32 juta dolar.

Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta mencapai lebih dari mencapai lebih dari 601 ribu ton atau sebesar 80,4% dan produksi kopi arabika mencapai 147 ribu ton atau sebesar 19,6%. Kopi Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan letak geografisnya yang cocok untuk lahan perkebunan kopi. Dengan memiliki luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan arabika 0,30 ha. Dengan demikian industri kopi menjadi salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan.

Beberapa produk kopi yang menjadi andalan bagi penikmatnya ada Gayo Coffee, Mandaling Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee, dan juga Luwak Coffee.