Laporan Rapat Anggota Tahunan Pusat Wamena

Senin , 14 April 2014 02:10 | Berita Utama | Dibaca 845 kali

LAPORAN:
RAPAT ANGGOTA TAHUNAN PUSAT WAMENA
KOPERASI SERBA USAHA BALIEM ARABICA, TGL. 01-02 APRIL 2014
Rapat Anggota TAHUNAN KBA dimulai dengan Pra-RAT tgl 01 April 2014 mulai pukul 09:00 hingga selesai, mebahas agenda focus evaluasi berhubungan dengan sejarah perkembangan kopi di Pegunungan Tengah Papua & permasalahan yang pernah terjadi Dari tahun ke tahun hingga terbentuknya KOPERASI BALIEM ARABICA (KBA). Sekilas HASIL evaluasi tersebut memunculkan beberapa hal an.:

A. PERKEMBANGAN
1. Kopi di Pegunungan Papua Sudah Ada sejak masuknya orang belanda baik di Kurima, Bokondini & Tiom. Khusus untuk konsumsi para Misionaris.
2. Selanjutnya berkembang di Wodlo, Kelela, Yelonggolo, Yogobak, Wesaput, Bokondini dll sejak adanya para Misionaris. Masih belum di kenal saat itu.
3. Selanjutnya Prmerintah RI mengembangKan kopi tersebut di beberapa lokasi yang dimotori beberapa tokoh Masyarakat antara lain Drs. Ishak Tabuni di Asologaima Dan N. Wenda di Yalengga dilanjutkan oleh N. Arumbu.
4. Pembibitan ini kemudian dikembangkan melalui Projec ADB oleh Dinas Perkebunan ke SELURUH Pegunungan Jayawijaya,

B. PERMASALAHAN
1. Pengembangan perkebunan kopi berkembang secara pesat dimana-mana namun permasalahan yang muncul didepan mata saat itu hingga berlanjut hampir 20-an tahun adalah KESULITAN MENCARI PASAR KOPI. Selain itu TIDAK PERNAH TAHU SECARA JELAS NAMA KOPI dari ini di Pasaran karena tidak Ada pasar yang jelas. Juga tidak muncul kepalanya Kopi yang benar, jelas memimpin petani dan MEMBICARAKAN pemasarannya hingga mencari SOLUSI hingga hampir 20-an thn.
2. Harga kopi yang sangat jauh Dari yang diharapkan mengakibatkan pembiaran hingga dihimpit hutan bahkan beralih fungsi hingga penebangan Dan pemusnahan terjadi di beberapa titik perkebunan kopi. Hal ini terjadi karena petani kopi kecewa dengan Pemerintah.
3. Tidak adanya pasaran kopi yang jelas, berkelanjutan, menguntungkan dan transparan serta jelas Dengan program Dan tujuan. Yang ada hanyalah sandiwara yang brakibat pada kehancuran Dan muncul Mossi tidak percaya petani terhadap program pemerintah, melalui Margono, Hendro, Saul, YBAW, Dan lainnya hanyalah bersandiwara.

C. SOLUSI
Setelah mengevaluasi perkembangan secara singkat dan melihat dengan jelas permasalahan yang terjadi disekeliling kampung khusus bagi Petani Kopi, Perkebunan Kopi di areal Tanah Adat serta pemasarannya maka Rapat memutuskan Dan menetapkan beberapa Hal penting antara lain:
1. Karena kopi ditanam di areal tanah Adat Dan dikelola oleh masyarakat Adat Dan dikelola dan di produksi secara traditional oleh Masyarakat Adat selaku pemilik maka KOPI DI KLAIM SEBAGAI PRODUK KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT BALIEM untuk mensukseskan Program Ekonomi Kreatif.
2. Karena Nama BALIEM adalah Nama Adat untuk SELURUH wilayah Pegunungan Tengah Papua maka Nama PRODUK BALIEM coffee hanya layak digunakan oleh KSU. BALIEM ARABICA Sebagai penghargaan atas SUKSESnya ekspor.
3. Karena, KSU Baliem Arabica telah eksport kopi Baliem sebanyak Lima Kali ke Amerika dengan mengangkat harga diri Masyarakat Adat Baliem, untuk itu RAT yang dihadiri oleh 12 perwakilan Kabupaten Pegunungan Tengah merekomendasikan sepenuhnya untuk menggunakan Nama Baliem kepada Koperasi yang SUKSES eksport sekaligus mengangkat harga diri orang Baliem.
4. Karena Kopi telah dipasarkan oleh KSU Baliem Arabica dengan Nama Merek Dagang Baliem Blue Coffee maka SELURUH PRODUK kopi SE Pegunungan Tengah Papua ditetapkan penjualannya harus jelas dengan Nama dan identitas yang sama Demi mempertahankan harga diri Dan keaslian asal usul, sekaligus menghindari pemalsuan Dan mempertahankan kualitas PRODUK masyarakat Adat.
5. Karena itu, RAT-KBA tahun ini tetap pertahankan kuota pasar kopi Ekspor dan meningkatkan kuota Pasar Lokal dari 5 ton menjadi 10 ton.

Pra RAT di tutup dengan renungan singkat Dan Doa yang dipimpin oleh Penasehat yang juga salah satu Pendiri Koperasi, PDT. KI'MAREK TAWY

Wamena, 10 April 2014
Di laporkan oleh:

Ev. Selion J. Karoba, S.Th
Ketua KBA