Masa Depan Kopi Papua: Apakah Nanti Senasib dengan Kopi-Kopi Lain di Indonesia?

Rabu , 22 Januari 2014 16:20 | BBCoffee | Dibaca 1029 kali

31 Oktober 2013 pukul 16:18

Menurut cerita, riwayat kopi-kopi di Indonesia sangat menyedihkan lantaran tiga alasan pokok. Yang pertama di era penjajahan perkebunan kopi di Indonesia semuanya dikuasai oleh kaum penjajah. Orang Indonesia (atau kaum bangsa wilayah jajahan waktu itu) dipekerjakan sebagai pekerja dan buruh, tidak ada yang punya kemampuan memiliki perkebunan kopi di wilayah yang kini disebut Indonesia (terutama pulau Jawa dan pulau Sumatera).

Selanjutnya di era setelah Indonesia merdeka, yang secara teori harus dinyatakan semua pengusahaan kopi di wilayah Indonesia dikuasai oleh penguasaha dan petani Indonesia, akan tetapi dengan kesal harus kita katakan tidak begitu. Penguasaan perkebunan kopi masih tetap ditangan konglomerat asing. Silahkan saja kita lacak ke bawah siapa pemilik kopi-kopi terbesar dan ternama di Indonesia.

Orang atau kaum yang termasuk ke dalam wilayah Indonesia saat ini hanya dijadikan sebagai buruh kasar di perkebunan-perkebunan kopi. Walaupun perkebunan berada di tanah, dusun, dan pulau di wilayah hukum Indonesia, pemilik dari perkebunan tersebut ialah orang asing, orang barat, kaum penjajah.

Alasan terakhir, atau ketiga, budaya kejujuran yang sangat sulit ditemukan di masyarakat dan wilayah Indonmesia memperburuk citra masyarakat pribumi Indonesia di mata dunia sehingga kopi Indonesia kalah bersaing dengan kopi-kopi Vietnam dan Thailand. Contoh saja, ada orang yang menjual Kopi Papua ke luar negeri. Label yang di berikan ialah "Kopi Papua", "Kopi Wamena", "Papua Arabica", atau "Wamena Arabica". Ada yang menjual "Kopi Gayo", "Kopi Lampung" dan sebagainya. Pada saat membaca tulisan "Papua Arabica", atau "Gayo Aceh", kebanyakan orang akan tanya, "Betul Papua Single Origin?" atau "Betul dan murni Kopi Papua?" Mengapa pertanyaan ini muncul lagi, sementara tulisan yang terpampang sudah jelas berkata "Kopi Papua"? Alasannya karena budaya perdagangan kopi di Indonesia saat ini menerapkan budaya jamuan makan "Warung Gado-gado", di mana kop Papua dicampur dengan Kopi Jawa, dicampur lagi dengan Kopi Aceh dan sebagainya.

Campuran ini masih baik. Masih ada lagi pedagang kopi di Indonesia yang mencampurkan Kopi Arabica dengan kopi Robusta lalu memanggilnya "Kopi Arabica Papua Wamena".

Maksudnya keaslian Kopi Papua atau Kopi Gayo atau Kopi Jawa menjadi kabur karena ada tindakan mencampur-campur dan perilaku gado-gado dalam menjual-belikan kopi-kopi yang dihasilkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada saat catatan ini ditulis, "Kop Papua" atau "Papua Coffees" masih dipandangn sebagia kopi yang masih asli, maish belum dicampur dengan kopi asal wilayah lain atau kopi robusta. Akan tetapi dengan banyak pedagang yang berkelakuan pencuri dan perampas masuk ke tanah Papua atas nama ini dan itu, lalu memperjual-belikan Kopi Papua kepada pedagang manapun yang ada di muka Bumi, maka akibatnya tidak lama lagi para pembeli kopi di dunia akan bertanya, "Ini masih asli Kopi Papua, kan?" karena pada waktu itu ke-asli-an kopi Papua juga menjadi dipertanyakan, sama dengan nasib kopi-kopi lain di Indonesia yang kini telah menjadi pertanyaan banyak pembeli.

Kami harap dengan pembentukan Asosiasi Kopi Papua (Specialty Coffee Association of Papua), maka kemerosotan kepercayaan pasar atas Papua Single Origin dan Papua Arabica Coffees tidak akan luntur seperti nasib kopi-kopi lain di wilayah Nusantara.