Profil Kegelisahan Seorang "Pahlawan" Kopi di Moanemani

Minggu , 04 Mei 2014 15:08 | Testimony | Dibaca 1076 kali

Ir. Didimus Tebay. Foto: Yermias DegeiKalau saya masuk dalam pemerintahan, saya akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri"

Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH -- Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu pernah menyebut Papua sebagai 'si cantik yang sedang tertidur lelap'. Pantas, sebutan itu dialamatkan kepada pulau ini karena ia berbentuk burung dan memiliki panorama yang indah.

Ia juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah (flora, fauna dan aneka tambang, pariwisata, hutan, kebudayaan, hasil perkebunan dan tentu saja luas wilayah dengan letaknya yang strategis.

Kopi adalah salah satu hasil perkebunan di Papua, khususnya di pegunungan yang dikenal banyak orang. Pegunungan di bagian Timur kita kenal Kopi Wamena dan pegunungan bagian barat kita kenal Kopi Moanemani. Kopi dikenal luas karena murni, 100% organic. Produk kopi dari dua daerah ini diekspor hingga keluar negeri.

Bagaimana kisah kopi Moanemani?
Kopi Moanemani dikelola oleh salah satu putra terbaik Papua, Ir. Dominikus Tebay. Ia memilih kembali ke kampung halamannya (Kampung Mauwa) untuk kelola potensi yang ada di pegunungan Mapiha dan Lembah Kamuu (kopi), kini Kabupatem Dogiyai setelah menyelesaikan pendidikan pertanian di negeri Belanda.

Ketika itu, kehadirannya member warna baru bagi masyarakat. Ia membangkitkan rakyat dengan potensi yang ada di sana dengan membuat perusahaan kopi dan mengajarkan berbagai ketrampilan di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan kepada masyarakat.

Tapi, waktu terus berjalan dan zaman berubah, semua yang ia ajarkan itu kini tinggal kenangan. Program-program instan dari pemerintah dan akses pasar yang sulit membuat warga di sana, pelan-pelan meninggalkan semua yang telah diajarkan Ir Tebay, cara menanam, merawat, panen, dan lainnya.

Tempat produksi kopi yang dikenal P5 itu telah lama redup. Selain karena larangan bantuan luar negeri oleh negara, juga karena masyarakat tidak lagi menanam dan merawat kopi yang dimilikinya sebagai bahan mentah. Koperasi Kopi Moanemani (P5)  yang beralamat Jalan  Kimuupugi, Kampung Kimupugi, Moanemani, Kab. Dogiyai itu kini hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.

Nama besar P5 yang dikenal luas sejak puluhan tahun itu kini hampir tidak terdengar. Ironis, Kabupaten Dogiyai yang merupakan pusat produksi kopi justru dibanjiri kopi olahan dari luar yang dibawa oleh para pedagang dari Bugis.

Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang sudah lebih dari 5 tahun hadir itu belum memperlihatkan komitmennya untuk hidupkan kembali Kopi Moanemani sebagai produksi unggulan.

Melihat kondisi ini, beberapa waktu, reporter majalahselangkah.com menemui Ir. Dominikus Tebay di koperasi P5. Berikut petikan wawancara bersamanya.

Selamat pagi Bapak, senang bisa bertemu dengan Bapak. Bapak, usaha kopi ini, Bapak mulai sejak kapan?

Saya mulai usaha kopi ini sudah puluhan tahun. Tidak ada modal pada awalnya, saya mulai bermodalkan 'komitmen'. Saya memulai dengan membuka koperasi kopi. Karena di sini ada potensi kopi.

Apakah kondisi saat ini masih sama seperti dulu?

Menurut pandangan saya, memang ada perubahan. Khusus untuk di bidang penanaman dan penjualan kopi di Kamuu sudah ada perubahan.

Setelah hadirnya kabupaten, ada berbagai tawaran kerja/borongan yang sangat menjanjikan untuk mendapatkan uang lebih besar dari menjual kopi. Kalau sebelum masuknya pemerintahan, waktu hanya masih distrik itu, kopi merupakan salah satu kerja yang paling laris buat masyarakat Kamuu di mana dengan cepat mendapatkan uang melalui penjualan kopi. Sekarang keadaan sudah terbalik.

Kopi semakin terkenal (mungkin karena juga kehadiran pemerintah) di mana-mana bahkan hingga di luar negeri tetapi orang yang membudidayakan kopi (buah kopi dikebun) sudah mulai tidak ada, padahal waktu masih distrik banyak orang yang sangat antusias untuk menjual kopi bahkan hingga setiap kampung ada kebun kopi.

Dulu kopi belum terkenal banyak masyarakat yang menjual, sekarang kopi terkenal, antusias masyarakat terhadap mulai kurang bahkan terancam tidak ada. Nama sudah mulai besar, peminat tambah banyak tetapi yang tanam kopi mulai tidak ada.

Apakah masih ada masyarakat yang masih tanam kopi sekarang?

Saya melihat masih ada yang tanam, tetapi tidak bisa saya pungkiri, tidak seramai dulu. Fakta bahwa, kopi masih dipegang oleh generasi tua yang sudah biasa bawa ke sini dari dulu. Belum ada generasi muda yang saya lihat secara serius untuk usaha kopi di tiap kampung.

Saya berharap harus ada "Pahlawan Kopi" di lembah Kamuu ini. Saya juga berharap kepada generasi muda, semoga ada yang jadi pahlawan-pahlawan di bidang ini lagi. Saya melihat peluang ekonomi sangat terbuka lebar sekali untuk usaha kopi untuk ke depan.

Sekarang sudah ada jurang pemisah yang tercipta antara generasi tua dengan generasi muda untuk usaha kopi ini di tiap kampung. Belum ada anak-anak muda yang berani mengambil alih untuk melanjutkan usaha kopi. Sekarang yang menjadi tugas berat yang harus dilakukan oleh semua pihak termasuk  saya itu, membangun sebuah komitmen pahlawan kopi kepada generasi muda.

Petani model harus dibangun. Ia lebih fokus kepada generasi muda, karena mereka yang melanjutkan nanti ke depan. Sekali pun ada generasi tua tetapi akan kita fokus kepada generasi muda. Dalam usaha semacam kopi itu memang berat rasanya, tetapi modal utama yang perlu dimiliki oleh para generasi muda yang mau kembangkan usaha kopi ke depan itu, sebuah komitmen.

Bagaimana dukungan pendanaan dan fasilitas dari pemerintah daerah Kabupaten Dogiyai saat ini?

Sekalipun ada dukungan dari pemerintah Dogiyai sama kami (usaha kopi Moanemani:red) tetapi secara nyata hingga saat ini belum ada. Memang kami sempat bicara tetapi sekarang ada tercecer di mana kami juga tidak tahu. Mereka (pemerinta Dogiyai:red) bisa jadi lupa karena mereka punya kesibukan banyak.

Ada perhatian yang nyata saat karateker saja (Bapak Drs. Adauktus Takerubun:red). Bupati karateker sempat menggunakan tenaga saya sebagai tenaga pemberi input kepada pemerintah bagian Perkebunan, pertanian dan perikanan.

Untuk baru-baru ini, waktu MUSREMBANG kemarin saya juga sempat diundang dan saya sempat memberikan beberapa ide dan pendapat saya terkait kopi ini. Saya sampaikan, pemerintah harus buat titik-titik pembelian kopi di tiap distrik dengan ongkos yang sama dengan yang kami beli. Pendapat saya itu sudah diterima oleh pemerintah dan ditanggapi positif jadi tidak tahu nanti akan dilaksanakan atau tidak, kita tunggu realisasi dari mereka.

Saya dibantu hanya waktu di sini distrik (distrik Kamuu). Tahun 2001, saat itu Bapak AP You menjadi Bupati Nabire, jadi saya merasa sangat berterimakasih kepada beliau.  Waktu itu kami ajukan proposal bantuan kepada beliau, beliau membantu kami 1 Milyar. Selanjutnya, hingga saat ini tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah kepada kami.

Bagaimana penggunaan uang itu?

Setelah kami terima uang itu kami pakai secara bertahap. Kami keluarkan banyak uang ketika kami pesan plastik untuk bungkus kopi dan kantong plastik, kami masih pakai sampai saat ini. Uang itu kami sudah kelola dan sudah kami pakai selama 13 tahun.

Stok untuk plastik dan pembungkus masih memadai hingga beberapa tahun ke depan. Uang itu telah member warna dan membangkitkan lagi koperasi ini dan masih jalan hingga saat ini.
Bapak, tempat ini  (Kopersi) dibangun puluhan tahun lalu. Fasilitas juga mungkin sudah lama.

Bagaimana dengan kondisi tempat dan fasilitas sekarang?

Seperti yang anak sendiri lihat ini. Kami masih pakai rumah yang lama dengan kondisi seperti ini (apa adanya). Kalau nanti ada dana, kami rencana perjelas status tanah ini terlebih dahulu karena tempat yang kami sedang pakai ini juga milik masyarakat di sini dan status belum jelas.

Fasilitas juga sudah lama semua. Harapan perhatian dari pemerintah daerah kepada koperasi Kopi Moanemani tentu ada, tetapi yang paling penting adalah harus ada 'petani model' kepada generasi muda dengan maksud usaha kopi ini terus ada terus hingga beberapa tahun mendatang.

Cara agar kopi tetap dipertahankan dalam perubahan, apa yang perlu dilakukan?

Saya pikir, pemerintah harus ajarkan skill yang memadai kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat yang sudah punya kebun kopi, agar kopi tetap ada terus untuk beberapa puluh tahun yang mendatang Kalau dibiarkan terus, siapa yang pertahankan kopi ini?

Pemerintah juga harus ajarkan petani dengan baik agar ada petani model di tiap distrik, lebih khususnya di bagian penanaman kopi dengan tujuan mereka yang akan dilatih itu memelihara kopi dan lahirkan kopi yang berkualitas.

Sementara yang biasa saya amati pada masyarakat Lembah Kamuu itu, sekalipun ada kebun kopi yang besar, masyarakat biarkan begitu saja. Petani model yang saya maksud itu, ajarkan masyarakat itu cara baik untuk menanam kopi yang baik, memelihara, melihat kopi mana yang sudah kena hama, cara memotong dahan dengan baik, dll.

Pokoknya ajarkan ketrampilan tentang pemeliharaan kopi yang baik kepada masyarakat di tiap distrik. Kalau hal itu diwujudkan oleh pemerintah melalui tiap distrik, saya yakin sekali, kopi tetap akan hidup di Lembah Kamuu.

Pak, selain karena ada tawaran baru, kadang-kadang masyarakat yang jauh kadang mengelu soal angkutan. Bagaimana Bapak melihat hal ini?

Untuk mempertahankan usaha kopi itu, saya sudah usulkan ke pemerintah Dogiyai untuk harus ada kendaraan khusus mengangkut kopi di tiap distrik, agar masyarakat tidak lagi datang jual di sini (Moanemani). Biar pemerintah beli di masyarakat langsung di tempat.

Apakah ada kekhatiran khusus bagi generasi muda dan kopi di Dogiyai?

Paling utama yang generasi muda tidak dipahami itu "kerja yang dengan muda kita mendapatkan uang itu, sangat muda juga kerja itu akan pergi". Kita tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.

Generasi muda sekarang itu lebih suka pada pekerjaan yang instan saja. Generasi muda harus ingat itu, pekerjaan instan akan melahirkan generasi bermental instan juga. Kalau kita bekerja pada sesuatu yang pekerjaannya yang membutuhkan waktu itu, akan ada hasil yang memuaskan. Untuk mencapai hasil yang memuaskan 'kan harus bayar dengan harga yang mahal.

Bapak itu salah satu figur masyarakat di sini. Banyak masyarakat menginginkan Bapak harus menjadi kepala dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP). Bagaimana?

Saya secara pribadi suka apa adanya. Kalau masyarakat nilai saya begitu, itu terserah mereka. Saya suka yang ada ini hahahahahaha. Kalau saya dipanggil dari pemerintah untuk memberikan ide saya, saya siap berikan tetapi saya tidak suka masuk dalam sistim.

Kalau saya masuk dalam sistim, saya naik dalam mobil dan saya akan lupa dengan apa  yang saya kerjakan di kebun atau  di dalam lumpur, lebih baik saya jadi apa adanya.

Misalnya, kalau kalau uang datang atas nama kopi, kami berterimakasih tetapi yang saya lihat sekarang uang kebanyakan lari ke CV dan PT yang menang teori tetapi tidak pernah ada kenyataan kerja di lapangan.

Kami di sini itu Koperasi Kopi. Untuk pengaturan tentang Koperasi padahal sudah diatur dalam UUD 1945. Kita itu cinta miskin tetapi kita tidak cinta orang miskin.

Kalau saya masuk dalam pemerintahan (PPP), saya nanti akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri. Lebih baik saya bekerja tanpa nama besar dan tanpa pakaian  dinas. Ada berbagai cara untuk datangkan uang, bukan hanya menjadi PNS saja. (Pilemon Keiya/MS)

Penulis : Pilemon Keiya
Sumber :  Majalahselangkah.com