Kopi Papua akan Didorong untuk Dikembangkan Menjadi Produk Unggulan

Minggu , 05 Januari 2014 02:07 | Ekonomi & Bisnis | Dibaca 1055 kali

Thursday, 19 December 2013 07:08, Written by  Gate Master, up4b.go.id

Kepala UP4B Bambang Darmono, saat bincang-bincang dengan sejumlah peserta Workshop Pengembangan Komoditas Unggulan Kopi Papua, Rabu (18/12) di Jakarta. (Foto: Sudadi, UP4B)
 
Kepala UP4B Bambang Darmono, saat bincang-bincang dengan sejumlah peserta Workshop Pengembangan Komoditas Unggulan Kopi Papua, Rabu (18/12) di Jakarta. (Foto: Sudadi, UP4B)Kepala UP4B Bambang Darmono menyatakan, Perpres Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat, mengamanatkan bahwa peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Papua dan Papua Barat diarahkan melalui pengembangan komoditas unggulan. Dalam kaitan ini maka salah satu komoditas unggulan yang hendak dikembangkan ke depan adalah komoditas kopi.
 
Pernyataan Kepala UP4B itu, dikemukakan saat membuka Workshop Pengembangan Komoditas Unggulan Kopi Papua, Rabu (18/12) di Jakarta. Peserta workshop adalah utusan dari Kementerian Pertanian, Kadin, Pusat Peneliti Kopi Kakao, kalangan dunia usaha, akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia dan beberapa Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten dari Provinsi Papua.
 
Menurut Bambang Darmono, pilihan komoditas kopi sebagai komoditas unggulan yang hendak di kembangkan di Provinsi Papua, sesungguhnya berkesesuaian dengan arah perekonomian dunia saat ini. Konsumsi kopi sudah merupakan bagian dari gaya hidup (life style) masyarakat menengah perkotaan. Gaya hidup masyarakat perkotaan tersebut membuat permintaan terhadap kopi, khususnya kopi arabika, tergolong tinggi.
 
Melalui kajian yang dilakukan oleh UP4B bekerjasama dengan IPB diketahui bahwa jenis komoditas kopi yang ada pada sebagian besar wilayah pegunungan tengah Provinsi Papua adalah jenis Kopi Arabika. Jenis Kopi Arabika dari Provinsi Papua ini sudah lama dikenal oleh konsumen dunia sebagai jenis kopi yang tergolong ‘Specialty Coffee’, dengan aroma yang khas dan yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi.
 
Beberapa kabupaten di Provinsi Papua yang memiliki areal kebun Kopi Arabika yaitu kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Memberamo Tengah, Puncak, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Yahukimo, Yalimo, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, dan Nduga. Dari data tercatat, di 14 kabupaten yang potensial umumnya terletak di wilayah pegunungan tengah. Namun data ini masih menunjukan angka luasan lahan yang jauh dari potensi  yang sesungguhnya di daerah-daerah ini, terutama bila dilihat dari sudut  kesesuaian lahan yang memang sangat cocok bagi pertumbuhan kopi arabika. Sementara itu, melalui kajian ini dapat diketahui bahwa terdapat beragam masalah terkait keberadaan dan upaya pengembangan komoditas kopi.
 
Secara umum, pengusahaan lahan Kopi Arabika di seluruh kabupaten tersebut merupakan kebun kopi rakyat, dengan produktivitas yang rendah. Produktivitas yang rendah tersebut antara lain penerapan teknik budidaya yang belum standar. Di sisi lain, terdapat peluang besar yang menjanjikan bagi pengembangan Kopi Arabika dari Provinsi Papua ini. Peluang ini perlu dikelola yaitu dengan meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinyuitas produksi.
 
Lebih lanjut Bambang Darmono menyatakan, dalam kaitan itulah penting kiranya untuk dilakukan kajian yang menyeluruh dan seksama untuk menghasilkan suatu masterplan dan penyusunan business plan untuk pengembangan komoditas kopi. Ruang lingkup kajian yang dilakukan oleh tim IPB mencakup analisis lingkungan fisik, sosial ekonomi, analisis agronomis, analisis kelembagaan, analisis business chain (rantai bisnis), analisis potensi pasar, analisis sumber keuangan (permodalan) dan analisis sumber daya manusia.
 
Melalui kajian yang demikian diharapkan akan dapat ditemukan masalah-masalah yang ada serta dirumuskan strategi tepat terkait dengan pengembangan komoditas kopi di Provinsi Papua. Dokumen yang dihasilkan dari kajian ini nantinya janganlah hendaknya dipandang sebagai milik UP4B semata, melainkan diharapkan menjadi dokumen hidup yang merupakan milik semua pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, swasta, akademisi dan masyarakat serta para pihak terkait lainnya yang peduli kepada pengembangan ekonomi masyarakat Papua, yang mudah-mudahan terwakili dalam pertemuan hari ini.
 
Kehadiran dan keterlibatan penuh para pihak sebagaimana yang disebutkan di atas, semakin mempunyai arti pentingnya dalam konteks kelembagaan ekonomi masyarakat Papua, yang dalam hal ini adalah petani kopi.
 
Temuan sementara yang dihasilkan oleh tim kajian kopi dari IPB, semakin membuktikan dan memberikan dorongan bagi UP4B untuk memfasilitasi terbentuknya sebuah kelembagaan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat asli Papua, baik yang bersifat regulasi maupun pendanaan, yang sementara ini masih terus kami perjuangkan. “Semoga tahun depan akan ada perusahaan daerah yang bisa mengelola hasil dari kebun kopi rakyat”, ujarnya.
 
Untuk itu, kata Kepala UP4B, berharap agar peran aktif dan sinergitas dari berbagai pihak, seperti yang hadir dalam pertemuan ini, merupakan modal awal yang sangat berguna dalam upaya pengembangan komoditas kopi di Provinsi Papua ke depan. (Sudadi, Media Center UP4B)